<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>LPM BLK - S1 Teknologi Industri Pertanian</title>
<link>http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/851</link>
<description>Laporan Pengabdian Kepada Masyarakat (Bina Lingkar Kampus)</description>
<pubDate>Wed, 22 Apr 2026 06:38:48 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-22T06:38:48Z</dc:date>
<item>
<title>PENERAPAN GOOD MANUFACTURING PRACTICE (GMP) DI KAMPUNG TEMPE KELURAHAN KEDAUNG KECAMATAN PAMULANG KOTA TANGERANG SELATAN</title>
<link>http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/858</link>
<description>PENERAPAN GOOD MANUFACTURING PRACTICE (GMP) DI KAMPUNG TEMPE KELURAHAN KEDAUNG KECAMATAN PAMULANG KOTA TANGERANG SELATAN
Sukotjo, Setiarti; Amar, Abu; Nurani, Darti
Kelurahan Kedaung Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan yang ditetapkan&#13;
sebagai Kampung pengrajin Tempe, selama ini sudah menjadi sentra industri rumah tangga&#13;
produk Tempe yang cukup terkenal di Tangerang Selatan dan sekitarnya. Namun yang akan&#13;
menjadi bahan untuk Abdimas tahap ini adalah pengrajin Tempe yang menghasilkan tempe&#13;
segar yang siap dipasarkan. Hal ini dipilih karena total kedelai yang sudah diolah menjadi&#13;
tempe tidak kurang dari 2 ton per hari. Kegiatan ini adalah lanjutan dari kegiatan sebelumnya,&#13;
yang mengkaji tiga faktor yang berbeda dari kegiatan sebelumnya.&#13;
Permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat pengrajin adalah mayoritas pengrajin&#13;
dalam proses produksi Tempe masih belum tentu sesuai dengan kaidah GMP. Hal ini&#13;
dikarenakan tahapan proses produksinya masih dilakukan secara rutin turun temurun dan tidak&#13;
sesuai dengan standard Good Manufacturing Practice (GMP), sehingga produsen tempe di&#13;
Kelurahan Kedaung belum dapat mengembangkan pemasaran produknya secara lebih luas.&#13;
Oleh karena itu solusi yang ditawarkan pada kegiatan ini adalah memberikan&#13;
pemahaman teknologi proses produksi Tempe sesuai dengan GMP, khususnya terkait 1) Mesin&#13;
dan peralatan produksi, 2) Bahan produksi, 3) Pengawasan proses produksi dan 4) Produk akhir&#13;
belum sepenuhnya memenuhi kaidah GMP. Solusi ini dipilih karena kegiatan lanjutan ini dapat&#13;
lenih membuka wawasan pengrajin tempe. Dengan adanya kegiatan ini, maka data dipetakan&#13;
pengerajin yang belum memenuhi kaidah GMP, dan bila ada yang memenuhi kaidah GMP,&#13;
maka dapat dijadikan percontohan bagi masyarakat di Kampung tempe.&#13;
Pengabdian ini dilakukan di Kampus ITI dan Kelurahan Kedaung Kecamatan Pamulang&#13;
Kota Tangerang Selatan selama empat bulan. Waktu pelaksanaan adalah dimulai bulan Mei&#13;
hingga September 2021. Responden yang dipilih ada 8 dan masing-masing memiliki kondisi&#13;
yang berbeda-beda terkait ketiga aspek yang dikaji.&#13;
Hasil analisis di lapang menunjukkan bahwa terkait faktor Mesin dan Peralatan, hanya&#13;
12.5% yang mesin/peralatannya dilengkapi dengan alat pengatur dan pengendali kelembaban,aliran&#13;
udara dan perlengkapan lainnya yang mempengaruhi keamanan pangan olahan. Untuk aspek&#13;
lain dari mesin dan peralatan dapat memenuhi kaidah GMP. Tekait faktor Bahan yang&#13;
Digunakan, hanya 50% yang tidak dalam bentuk formula dasar bahan yang digunakan, yang&#13;
menyebutkan jenis dan persyaratan mutu bahan, sedangkan aspek lain memenuhi kaidah GMP.&#13;
Sementara itu, untuk faktor Pengawasan Proses, banyak aspek yang belum memenuhi kaidah&#13;
GMP, bahkan ada beberapa aspek dari faktor proses pengolahan yang sam sekali tidak ataupun&#13;
belum dipenuhi. Aspek yang belum terpenuhi adalah petunjuk tahap-tahap proses produksi&#13;
secara terinci, data jumlah produk yang diperoleh untuk satu kali proses produksi dan&#13;
memformulasikan persyaratan-persyaratan yang berhubungan dengan bahan baku,&#13;
komposisi,proses pengolahan dan distribusi. Selain itu, belum melakukan pmemeliharaan&#13;
catatan mengenai bahan yang digunakan, penggunaan alat-alat pelindung seperti baju kerja, topi dan&#13;
sepatu karet serta selalu mencuci tangan sebelum masuk tempat produksi, dan iradiasi pangan olahan&#13;
harus memenuhi persyaratanyangdikeluarkanolehinstansikompeten.&#13;
Tahap berikutnya adalah perlunya dilakukan penyuluhan dan penjelasan kepada&#13;
pengrajin tempe, terutama untuk yang berhubungan dengan faktor Pengawasan Proses. Hal&#13;
tersebut penting, karena masih banyak yang belum memahami faktor Pengawasan Proses dalam&#13;
GMP, sehingga diharapkan pada masa yang akan datang akan lebih banyak pengrajin tempe&#13;
yang melakukan pengawasan prosesnya dengan baik, sesuai GMP.
LAPORAN KEGIATAN BINA LINGKAR KAMPUS (BLK)
</description>
<pubDate>Wed, 01 Sep 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/858</guid>
<dc:date>2021-09-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>PELATIHAN HIDROPONIK DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI KELURAHAN KERANGGAN KOTA TANGERANG SELATAN</title>
<link>http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/852</link>
<description>PELATIHAN HIDROPONIK DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI KELURAHAN KERANGGAN KOTA TANGERANG SELATAN
Irianto, Heru; Saragih, Raskita; Leonita, Shinta; Octasylva, Annuridya Rosyidta Pratiwi
Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan ditetapkan&#13;
sebagai Kampung Ekowisata yang dulunya merupakan wilayah agraris karena sebagian&#13;
besar masyarakatnya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Namun, saat ini&#13;
keterbatasan lahan pertanian menjadi salah satu kendala seiring dengan meningkatnya&#13;
pembangunan. Kendala lainnya yaitu masyarakat yang masih kurang paham tentang&#13;
pengetahuan dan keterampilan dalam teknik cara menaman dengan metode lain tanpa&#13;
harus memiliki lahan yang luas salah satunya yaitu budidaya tanaman dengan sistem&#13;
hidroponik.&#13;
Hidroponik adalah suatu budidaya menanam dengan mamakai (memanfaatkan)&#13;
air tanpa memakai tanah dan menekankan penambahan kebutuhan nutrisi untuk tanaman.&#13;
Kebutuhan air pada tanaman hidroponik lebih sedikit dibandingkan kebutuhan air pada&#13;
budidaya dengan memakai media tanah. Hidroponik memakai air yang lebih efisien, jadi&#13;
sangat cocok diterapkan pada daerah/ di tempat yang mempunyai pasokan air yang&#13;
terbatas.&#13;
Tren bercocok tanam dengan sistem hidroponik agaknya mulai digandrungi dan&#13;
diminati masyarakat khususnya di daerah perkotaan. Lahan yang minim serta proses&#13;
bercocok tanam yang mudah, menjadi daya tarik tersendiri sehingga banyak kalangan&#13;
masyarakat yang mulai memanfaatkan ruang kosong di sekitar rumahnya untuk disulap&#13;
menjadi modul-modul (instalasi peralatan tanam) hidroponik.&#13;
Maksud dilaksanakannya Pelatihan Hidroponik ini adalah untuk memberikan&#13;
pengetahuan dasar teknik budidaya tanaman sayuran secara hidroponik yang dilakukan&#13;
pada skala rumah tangga. Sedangkan tujuan dari dilaksanakannya Pelatihan Hidroponik&#13;
Skala Rumah Tangga adalah untuk: (1) Memberikan Pengetahuan Dasar Teknik&#13;
Budidaya Secara Hidroponik; (2) Memberikan Pengetahuan Berbagai Macam Sistem&#13;
Hidroponik; (3) Memberikan Pengetahuan Dasar tentang Nutrisi Hidroponik; dan (4)&#13;
Memberikan Pengetahuan tentang Analisa Usaha Budidaya Sayuran Hidroponik.&#13;
Metodologi yang dilakukan dalam kegiatan pelatihan hidroponik skala rumah&#13;
tangga dilakukan dengan metode sebagai berikut : (1) Pertemuan tatap muka untuk&#13;
memberikan teori budidaya yang dilakukan secara hidroponik dengan materi yang terdiri&#13;
atas: a. Pengetahuan Dasar Hidroponik, b. Pengenalan Media Tanam Hidroponik, c.&#13;
Pengenalan Hidroponik, dan d. Pengetahuan Dasar Nutrisi Hidroponik; (2) Praktek&#13;
langsung yang dilakukan oleh seluruh peserta pelatihan yang terdiri atas; a. Praktek&#13;
menyemai benih hidroponik, b. Praktek membuat sistem hidroponik sederhana, c.&#13;
Praktek melarutkan nutrisi hidroponik, dan d. Praktek membuat instalasi hidroponik.&#13;
Kegiatan ini menghasilkan luaran berupa: (a) Laporan Akhir; (b) Standar Operasional&#13;
Prosedur Budidaya dengan Teknik dan Sistem Hidroponik; (c) Artikel Ilmiah dan (d)&#13;
Paket Teknologi Tepat Guna Teknik Budidaya Tanaman dengan Sistem Hidroponik.
LAPORAN KEGIATAN BINA LINGKAR KAMPUS (BLK)
</description>
<pubDate>Wed, 01 Sep 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/852</guid>
<dc:date>2021-09-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
