<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>1. Penelitian Hibah (S1EL)</title>
<link>http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/532</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 22 Apr 2026 09:47:32 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-22T09:47:32Z</dc:date>
<item>
<title>Peningkatan Kehandalan Inkubator Fermentasi Tempe  Skala Produksi Usaha Mikro Kecil dan Menengah</title>
<link>http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/1278</link>
<description>Peningkatan Kehandalan Inkubator Fermentasi Tempe  Skala Produksi Usaha Mikro Kecil dan Menengah
Hapsari, Novy; Aisyah, Tita; Saharudin, Saharudin
</description>
<pubDate>Mon, 22 Aug 2022 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/1278</guid>
<dc:date>2022-08-22T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Penerapan Teknologi Digital Pada Industri Tempe Untuk Penjaminan Kualitas dan Efesiensi Produksi</title>
<link>http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/1098</link>
<description>Penerapan Teknologi Digital Pada Industri Tempe Untuk Penjaminan Kualitas dan Efesiensi Produksi
Aisyah, Tita; Hapsari, Novy; Saharudin, Saharudin
Tempe merupakan makanan tradisional yang sangat populer di kalangan&#13;
rakyat Indonesia. Tempe terbuat dari kedelai yang difermentasikan dengan&#13;
jamur Rizhopus oligoporus sehingga terbentuk massa yang padat dan&#13;
diselimuti oleh selaput hifa jamur berwarna putih yang seragam. Proses&#13;
fermentasi pada kedelai dapat meningkatkan nilai nutrisi, sifat&#13;
organoleptic, dan kecernaan produk, serta meningkatkan ketersediaan&#13;
hayati protein, karbohidrat, dan lipid, dalam ukuran yang mudah&#13;
dicerna(Santhirasegaram et al., 2016)(Mukherjee et al., n.d.). Pada saat ini,&#13;
umumnya tempe dibuat oleh industri skala rumah tangga. Dari hasil&#13;
observasi proses produksi tempe, proses yang sangat memakan tenaga dan&#13;
kritis, ada 2, yaitu pengelupasan yang dilakukan secara manual dan proses&#13;
fermentasi. Proses fermentasi, merupakan salah satu bagian yang sangat&#13;
kritis, karena membutuhkan kondisi lingkungan yang stabil suhunya pada&#13;
sekitar 301oC, kelembapan sedang, dan dengan ventilasi yang baik&#13;
(udara dapat mengalir). Perkembangan teknologi yang sangat pesat seperti&#13;
sekarang ini, masih banyak pengrajin tempe yang proses pembuatannya&#13;
masih dilakukan secara manual dan bergantung pada iklim cuaca. Proses&#13;
fermentasi tempe berlangsung selama 24 jam. Pada penelitian ini dibuat&#13;
alat optimalisasi fermentasi tempe dengan mesin inkubator berukuran&#13;
80cm x 175cm x 180 cm. Dalam sekali produksi, inkubator fermentasi&#13;
tempe dapat menampung 240 tempe. Arduino Mega 2560 mengolah data&#13;
yang diterima dari 3 buah sensor DHT22, untuk menaikan suhu ruang&#13;
menggunakan heater, sementara menurunkan suhu ruang menggunakan&#13;
kipas. Inkubator ini juga mengendalikan kondisi suhu ruang alat&#13;
fermentasi pada suhu yang diinginkan, yaitu 31oC sampai dengan 34oC.&#13;
Dengan alat fermentasi tempe, proses fermentasi tempe dapat menghemat&#13;
waktu 4 jam lebih cepat atau efesien waktu 20%.
LAPORAN AKHIR PENELITIAN DANA INTERNAL PERGURUAN TINGGI
</description>
<pubDate>Mon, 29 Nov 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/1098</guid>
<dc:date>2021-11-29T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>RANCANG BANGUN INKUBATOR UNTUK OPTIMALISASI FERMENTASI PADA PRODUKSI TEMPE</title>
<link>http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/825</link>
<description>RANCANG BANGUN INKUBATOR UNTUK OPTIMALISASI FERMENTASI PADA PRODUKSI TEMPE
Aisyah, Tita; Hapsari, Novy; Saharudin, Saharudin
Tempe merupakan makanan tradisional yang sangat populer di kalangan rakyat&#13;
Indonesia. Tempe terbuat dari kedelai yang difermentasikan dengan jamur Rizhopus&#13;
oligoporus sehingga terbentuk massa yang padat dan diselimuti oleh selaput hifa jamur&#13;
berwarna putih yang seragam. Proses fermentasi pada kedelai dapat meningkatkan nilai&#13;
nutrisi, sifat organoleptic, dan kecernaan produk, serta meningkatkan ketersediaan hayati&#13;
protein, karbohidrat, dan lipid, dalam ukuran yang mudah dicerna(Santhirasegaram et al.,&#13;
2016)(Mukherjee et al., n.d.). Pada saat ini, umumnya tempe dibuat oleh industri skala&#13;
rumah tangga. Dari hasil observasi proses produksi tempe, proses yang sangat memakan&#13;
tenaga dan kritis, ada 2, yaitu pengelupasan yang dilakukan secara manual dan proses&#13;
fermentasi. Proses fermentasi, merupakan salah satu bagian yang sangat kritis, karena&#13;
membutuhkan kondisi lingkungan yang stabil suhunya pada sekitar 301oC, kelembapan&#13;
sedang, dan dengan ventilasi yang baik (udara dapat mengalir). Perkembangan teknologi&#13;
yang sangat pesat seperti sekarang ini, masih banyak pengrajin tempe yang proses&#13;
pembuatannya masih dilakukan secara manual dan bergantung pada iklim cuaca. Proses&#13;
fermentasi tempe berlangsung selama 24 jam. Pada penelitian ini dibuat alat optimalisasi&#13;
fermentasi tempe dengan mesin inkubator berukuran 80cm x 175cm x 180 cm. Dalam&#13;
sekali produksi, inkubator fermentasi tempe dapat menampung 240 tempe. Arduino Mega&#13;
2560 mengolah data yang diterima dari 3 buah sensor DHT22, untuk menaikan suhu&#13;
ruang menggunakan heater, sementara menurunkan suhu ruang menggunakan kipas.&#13;
Inkubator ini juga mengendalikan kondisi suhu ruang alat fermentasi pada suhu yang&#13;
diinginkan, yaitu 31oC sampai dengan 34oC.
LAPORAN PENELITIAN DANA INTERNAL PERGURUAN TINGGI
</description>
<pubDate>Wed, 01 Sep 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/825</guid>
<dc:date>2021-09-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Rancang Bangun Terowongan Angin Kecepatan Rendah untuk Pengujian Pembangkit Listrik Tenaga Bayu</title>
<link>http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/808</link>
<description>Rancang Bangun Terowongan Angin Kecepatan Rendah untuk Pengujian Pembangkit Listrik Tenaga Bayu
Kamal, Edwin; Yatmani, Sri; Setiawan, Adi
Kajian potensi tenaga angin di suatu daerah membutuhkan simulasi angin&#13;
untuk menentukan jenis turbin dan sistem pembangkit yang tepat. Simulasi angin&#13;
dapat dihasilkan dengan membuat terowongan angin yang dapat diatur kecepatan&#13;
angin serta memiliki luas penampang yang cukup untuk memutar model turbin.&#13;
Tujuan penelitian ini membuat rancang bangun terowongan angin yang dapat&#13;
menghasilkan kecepatan angin 0 - 7 m/s dan dapat memutar model turbin yang&#13;
memiliki ukuran diameter maksimal 80 cm. Komponen terowongan angin terdiri&#13;
dari kipas pendorong, honey comb untuk menghasilkan angin yang laminer,&#13;
dinding penutup dan konstruksi, inverter untuk variabel speed kipas, proteksi&#13;
listrik dan penutup untuk keamanan. Angin yang dihasilkan dari kipas pendorong&#13;
setelah melewati honey comb maka kecepatan angin akan berkurang, karena itu&#13;
diperlukan penentuan konstruksi honey comb yang tepat agar angin yang&#13;
dihasilkan bisa mencapai 7 m/s. Konstruksi dinding terowongan yang cukup&#13;
panjang dan kuat dapat menghasilkan simulasi angin yang baik seperti halnya&#13;
terjadi di alam. Output angin laminer yang dihasilkan diharapkan dapat memutar&#13;
model turbin angin yang masih dapat mewakili ukuran turbin sebenarnya.
LAPORAN PENELITIAN DANA INTERNAL PERGURUAN TINGGI
</description>
<pubDate>Wed, 01 Sep 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/808</guid>
<dc:date>2021-09-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
