<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>DSpace Collection:</title>
  <link rel="alternate" href="http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/532" />
  <subtitle />
  <id>http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/532</id>
  <updated>2026-03-10T00:25:11Z</updated>
  <dc:date>2026-03-10T00:25:11Z</dc:date>
  <entry>
    <title>Peningkatan Kehandalan Inkubator Fermentasi Tempe  Skala Produksi Usaha Mikro Kecil dan Menengah</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/1278" />
    <author>
      <name>Hapsari, Novy</name>
    </author>
    <author>
      <name>Aisyah, Tita</name>
    </author>
    <author>
      <name>Saharudin, Saharudin</name>
    </author>
    <id>http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/1278</id>
    <updated>2022-08-24T06:41:30Z</updated>
    <published>2022-08-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Peningkatan Kehandalan Inkubator Fermentasi Tempe  Skala Produksi Usaha Mikro Kecil dan Menengah
Authors: Hapsari, Novy; Aisyah, Tita; Saharudin, Saharudin</summary>
    <dc:date>2022-08-22T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Penerapan Teknologi Digital Pada Industri Tempe Untuk Penjaminan Kualitas dan Efesiensi Produksi</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/1098" />
    <author>
      <name>Aisyah, Tita</name>
    </author>
    <author>
      <name>Hapsari, Novy</name>
    </author>
    <author>
      <name>Saharudin, Saharudin</name>
    </author>
    <id>http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/1098</id>
    <updated>2022-02-28T11:36:57Z</updated>
    <published>2021-11-29T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Penerapan Teknologi Digital Pada Industri Tempe Untuk Penjaminan Kualitas dan Efesiensi Produksi
Authors: Aisyah, Tita; Hapsari, Novy; Saharudin, Saharudin
Abstract: Tempe merupakan makanan tradisional yang sangat populer di kalangan&#xD;
rakyat Indonesia. Tempe terbuat dari kedelai yang difermentasikan dengan&#xD;
jamur Rizhopus oligoporus sehingga terbentuk massa yang padat dan&#xD;
diselimuti oleh selaput hifa jamur berwarna putih yang seragam. Proses&#xD;
fermentasi pada kedelai dapat meningkatkan nilai nutrisi, sifat&#xD;
organoleptic, dan kecernaan produk, serta meningkatkan ketersediaan&#xD;
hayati protein, karbohidrat, dan lipid, dalam ukuran yang mudah&#xD;
dicerna(Santhirasegaram et al., 2016)(Mukherjee et al., n.d.). Pada saat ini,&#xD;
umumnya tempe dibuat oleh industri skala rumah tangga. Dari hasil&#xD;
observasi proses produksi tempe, proses yang sangat memakan tenaga dan&#xD;
kritis, ada 2, yaitu pengelupasan yang dilakukan secara manual dan proses&#xD;
fermentasi. Proses fermentasi, merupakan salah satu bagian yang sangat&#xD;
kritis, karena membutuhkan kondisi lingkungan yang stabil suhunya pada&#xD;
sekitar 301oC, kelembapan sedang, dan dengan ventilasi yang baik&#xD;
(udara dapat mengalir). Perkembangan teknologi yang sangat pesat seperti&#xD;
sekarang ini, masih banyak pengrajin tempe yang proses pembuatannya&#xD;
masih dilakukan secara manual dan bergantung pada iklim cuaca. Proses&#xD;
fermentasi tempe berlangsung selama 24 jam. Pada penelitian ini dibuat&#xD;
alat optimalisasi fermentasi tempe dengan mesin inkubator berukuran&#xD;
80cm x 175cm x 180 cm. Dalam sekali produksi, inkubator fermentasi&#xD;
tempe dapat menampung 240 tempe. Arduino Mega 2560 mengolah data&#xD;
yang diterima dari 3 buah sensor DHT22, untuk menaikan suhu ruang&#xD;
menggunakan heater, sementara menurunkan suhu ruang menggunakan&#xD;
kipas. Inkubator ini juga mengendalikan kondisi suhu ruang alat&#xD;
fermentasi pada suhu yang diinginkan, yaitu 31oC sampai dengan 34oC.&#xD;
Dengan alat fermentasi tempe, proses fermentasi tempe dapat menghemat&#xD;
waktu 4 jam lebih cepat atau efesien waktu 20%.
Description: LAPORAN AKHIR PENELITIAN DANA INTERNAL PERGURUAN TINGGI</summary>
    <dc:date>2021-11-29T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>RANCANG BANGUN INKUBATOR UNTUK OPTIMALISASI FERMENTASI PADA PRODUKSI TEMPE</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/825" />
    <author>
      <name>Aisyah, Tita</name>
    </author>
    <author>
      <name>Hapsari, Novy</name>
    </author>
    <author>
      <name>Saharudin, Saharudin</name>
    </author>
    <id>http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/825</id>
    <updated>2022-02-28T11:36:43Z</updated>
    <published>2021-09-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: RANCANG BANGUN INKUBATOR UNTUK OPTIMALISASI FERMENTASI PADA PRODUKSI TEMPE
Authors: Aisyah, Tita; Hapsari, Novy; Saharudin, Saharudin
Abstract: Tempe merupakan makanan tradisional yang sangat populer di kalangan rakyat&#xD;
Indonesia. Tempe terbuat dari kedelai yang difermentasikan dengan jamur Rizhopus&#xD;
oligoporus sehingga terbentuk massa yang padat dan diselimuti oleh selaput hifa jamur&#xD;
berwarna putih yang seragam. Proses fermentasi pada kedelai dapat meningkatkan nilai&#xD;
nutrisi, sifat organoleptic, dan kecernaan produk, serta meningkatkan ketersediaan hayati&#xD;
protein, karbohidrat, dan lipid, dalam ukuran yang mudah dicerna(Santhirasegaram et al.,&#xD;
2016)(Mukherjee et al., n.d.). Pada saat ini, umumnya tempe dibuat oleh industri skala&#xD;
rumah tangga. Dari hasil observasi proses produksi tempe, proses yang sangat memakan&#xD;
tenaga dan kritis, ada 2, yaitu pengelupasan yang dilakukan secara manual dan proses&#xD;
fermentasi. Proses fermentasi, merupakan salah satu bagian yang sangat kritis, karena&#xD;
membutuhkan kondisi lingkungan yang stabil suhunya pada sekitar 301oC, kelembapan&#xD;
sedang, dan dengan ventilasi yang baik (udara dapat mengalir). Perkembangan teknologi&#xD;
yang sangat pesat seperti sekarang ini, masih banyak pengrajin tempe yang proses&#xD;
pembuatannya masih dilakukan secara manual dan bergantung pada iklim cuaca. Proses&#xD;
fermentasi tempe berlangsung selama 24 jam. Pada penelitian ini dibuat alat optimalisasi&#xD;
fermentasi tempe dengan mesin inkubator berukuran 80cm x 175cm x 180 cm. Dalam&#xD;
sekali produksi, inkubator fermentasi tempe dapat menampung 240 tempe. Arduino Mega&#xD;
2560 mengolah data yang diterima dari 3 buah sensor DHT22, untuk menaikan suhu&#xD;
ruang menggunakan heater, sementara menurunkan suhu ruang menggunakan kipas.&#xD;
Inkubator ini juga mengendalikan kondisi suhu ruang alat fermentasi pada suhu yang&#xD;
diinginkan, yaitu 31oC sampai dengan 34oC.
Description: LAPORAN PENELITIAN DANA INTERNAL PERGURUAN TINGGI</summary>
    <dc:date>2021-09-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Rancang Bangun Terowongan Angin Kecepatan Rendah untuk Pengujian Pembangkit Listrik Tenaga Bayu</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/808" />
    <author>
      <name>Kamal, Edwin</name>
    </author>
    <author>
      <name>Yatmani, Sri</name>
    </author>
    <author>
      <name>Setiawan, Adi</name>
    </author>
    <id>http://repository.iti.ac.id/jspui/handle/123456789/808</id>
    <updated>2021-12-02T09:09:38Z</updated>
    <published>2021-09-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Rancang Bangun Terowongan Angin Kecepatan Rendah untuk Pengujian Pembangkit Listrik Tenaga Bayu
Authors: Kamal, Edwin; Yatmani, Sri; Setiawan, Adi
Abstract: Kajian potensi tenaga angin di suatu daerah membutuhkan simulasi angin&#xD;
untuk menentukan jenis turbin dan sistem pembangkit yang tepat. Simulasi angin&#xD;
dapat dihasilkan dengan membuat terowongan angin yang dapat diatur kecepatan&#xD;
angin serta memiliki luas penampang yang cukup untuk memutar model turbin.&#xD;
Tujuan penelitian ini membuat rancang bangun terowongan angin yang dapat&#xD;
menghasilkan kecepatan angin 0 - 7 m/s dan dapat memutar model turbin yang&#xD;
memiliki ukuran diameter maksimal 80 cm. Komponen terowongan angin terdiri&#xD;
dari kipas pendorong, honey comb untuk menghasilkan angin yang laminer,&#xD;
dinding penutup dan konstruksi, inverter untuk variabel speed kipas, proteksi&#xD;
listrik dan penutup untuk keamanan. Angin yang dihasilkan dari kipas pendorong&#xD;
setelah melewati honey comb maka kecepatan angin akan berkurang, karena itu&#xD;
diperlukan penentuan konstruksi honey comb yang tepat agar angin yang&#xD;
dihasilkan bisa mencapai 7 m/s. Konstruksi dinding terowongan yang cukup&#xD;
panjang dan kuat dapat menghasilkan simulasi angin yang baik seperti halnya&#xD;
terjadi di alam. Output angin laminer yang dihasilkan diharapkan dapat memutar&#xD;
model turbin angin yang masih dapat mewakili ukuran turbin sebenarnya.
Description: LAPORAN PENELITIAN DANA INTERNAL PERGURUAN TINGGI</summary>
    <dc:date>2021-09-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
</feed>

